Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Al-Quran’ Category

Kepentingan Kisah Dalam al-Qur’an

Secara bahasa kata al-Qashash dan al-Qushsh maknanya mengikuti atsar (jejak/bekas). Sedangkan secara istilah maknanya adalah informasi mengenai suatu kejadian/perkara yang berperiodik di mana satu sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai).

Kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan kisah paling benar sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah.?” (QS.an-Nisa’/4:87). Hal ini, kerana kesesuaiannya dengan realiti sangatlah sempurna.

Kisah al-Qur’an juga merupakan sebaik-baik kisah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu.” (QS.Yusuf/12:3). Hal ini, kerana ia mencakup tingkatan kesempurnaan paling tinggi dalam capaian balaghah dan keagungan maknanya.

Kisah al-Qur’an juga merupakan kisah paling bermanfa’at sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.Yusuf/12:111). Hal ini, kerana pengaruhnya terhadap perbaikan hati, perbuatan dan akhlaq amat kuat.

Jenis-Jenis Kisah 

Kisah al-Qur’an terbahagi menjadi 3 jenis:

1. Kisah mengenai para nabi dan Rasul serta hal-hal yang terjadi antara mereka dan orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.

2. Kisah mengenai individu-individu dan golongan-golongan tertentu yang mengandungi pelajaran. Kerananya, Allah mengisahkan mereka seperti kisah Maryam, Luqman, orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya (seperti tertera dalam surat al-Baqarah/2:259), Dzulqarnain, Qarun, Ash-habul Kahf, Ash-habul Fiil, Ash-habul Ukhdud dan lain sebagainya.

3. Kisah mengenai kejadian-kejadian dan kaum-kaum pada masa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti kisah perang Badar, Uhud, Ahzab (Khandaq), Bani Quraizhah, Bani an-Nadhir, Zaid bin Haritsah, Abu Lahab dan sebagainya.

Beberapa Hikmah Penampilan Kisah

Hikmah yang dapat dipetik banyak sekali, di antaranya:

a. Penjelasan mengenai hikmah Allah ta’ala dalam kandungan kisah-kisah tersebut, sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmat yang sempurna, maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka).” (al-Qamar/54:4-5)

b. Penjelasan keadilan Allah ta’ala melalui hukuman-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan-Nya. Dalam hal ini, firman-Nya mengenai orang-orang yang mendustakan itu, “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, kerana itu tiadalah bermanfa’at sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan.” (QS. hud/11:101)

c. Penjelasan mengenai kurnia-Nya berupa diberikannya pahala kepada orang-orang beriman. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing.” (QS. Al-qamar/54:34)

d. Hiburan bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam atas sikap yang dilakukan orang-orang yang mendustakannya terhadapnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” (QS.fathir/35:25-26)

e. Cadangan bagi kaum Mukminin dalam hal keimanan di mana dituntut agar tegar di atasnya bahkan menambah frekuensinya sebab mereka mengetahui bagaimana kaum Mukminin terdahulu selamat dan bagaimana mereka menang saat diperintahkan berjihad. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dari menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikian itulah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS.al-Anbiya’/21:88) Dan firman-Nya yang lain, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS.ar-Rum/30:47)

f. Peringatan kepada orang-orang kafir akan akibat terus menerusnya mereka dalam kekufuran. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (QS.muhammad/47:10)

g. Menetapkan risalah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebab berita-berita tentang umat-umat terdahulu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (QS.Hud/11:49) Dan firman-Nya, “”Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (iaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.” (Ibrahim/14:9)

Apa Faedah Pengulangan Kisah?

Ada di antara kisah-kisah al-Qur’an yang hanya disebutkan satu kali saja seperti kisah Luqman dan Ash-habul Kahf. Ada pula yang disebutkan berulang kali sesuai dengan keperluan dan mashlahah. Pengulangan ini pun tidak dalam satu aspek, tetapi berbeza dari aspek panjang dan pendek, lembut dan keras serta penyebutan sebahagian aspek lain dari kisah itu di satu tempat namun tidak disebutkan di tempat lainnya.

Hikmah Pengulangan Kisah 

Di antara hikmah pengulangan kisah ini adalah:

– Penjelasan betapa pentingnya kisah sebab dengan pengulangannya menunjukkan adanya perhatian penuh terhadapnya.

– Menguatkan kisah itu sehingga tertanam kukuh di hati semua manusia

– Memerhatikan masa dan kondisi orang-orang yang diajak bicara. Kerana itu, anda sering mendapatkan kisahnya begitu singkat dan biasanya keras bila berkenaan dengan kisah-kisah dalam surah-surah Makkiyyah, namun hal sebaliknya terjadi pada kisah-kisah dalam surah-surah Madaniyyah

– Penjelasan sisi balaghah al-Qur’an dalam pemunculan kisah-kisah tersebut dari sisi yang satu atau dari sisi yang lainnya sesuai dengan tuntutan kondisi

– Nampak terangnya kebenaran al-Qur’an dan bahawa ia berasal dari Allah ta’ala dimana sekali pun kisah-kisah tersebut dimuat dalam beragam jenis namun tidak satu pun terjadi kontradiksi.

(SUMBER: Ushuul Fi at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal.48-51)

Advertisements

Read Full Post »

Tanggungjawab Terhadap Al-Qur’an

Secara umumnya ada empat tanggungjawab umat Islam terhadap Al-Qur’an. Pertama membaca Al-Qur’an, kedua memahami Al-Qur’an, ketiga mengamalkan kandungan Al-Qur’an dan keempat menghafal Al-Qur’an.

Bab ini tidak akan merincikan keempat-empat tanggungjawab umum umat Islam terhadap Al-Qur’an. Tulisan ini sekadar pengenalan atau sekilas pandang berkaitan topik yang dibicarakan.

1. Membaca Al-Qur’an

Tuntutan membaca Al-Qur’an sudah dijelaskan dalam bab yang berasingan. Nabi mengumpakana rumah yang tidak pernah dibaca Al-Qur’an di dalamnya sebagai kubur. Sarjana Islam menyatakan jangka masa yang ideal untuk mengkhatam Al-Qur’an ialah 40 hari sekali tamat membaca Al-Qur’an. Ia bukanlah suatu yang wajib, namun lebih merupakan anjuran dan galakan.

Ada sekelompok dari umat Islam berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan sekadar membacanya sahaja. Bacaan mereka sangat baik dan amal ibadah mereka juga antara yang terbaik dari kalangan umat Islam. Situasi begini sudahpun berlaku sejak zaman Nabi Muhammad masih hidup lagi.

Dalam satu peristiwa, sahabat Abu Said al-Khudri melaporkan seorang lelaki bernam Zul Khuwaisirah dari pernah mempertikaikan keputusan Nabi Muhammad. Dari keturunan lelaki ini kemudian lahirnya satu puak sesat dari umat Islam bernama Khawarij. Kata nabi kepada golongan ini,

“Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkong mereka, mereka terkeluar dari Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya”.(HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Golongan Khawarij termasuk dari 1 dari 72 pecahan umat Islam yang sesat. Namun kesesatan mereka dikaburi dengan ibadah zahir yang mereka lakukan dan bacaan al-Qur’an yang mereka lagukan. Dalam satu hadith yang lain Nabi Muhammad berpesan lagi,

Akan keluar satu kaum (Khawarij) dari umatku yang membaca al-Quran, mereka menyangka bahawasanya diberi pahala untuk mereka padahal (kemurkaan Allah) atas mereka. Solat mereka pula tidak melepasi tenggorokan mereka”. (HR Muslim)

Justeru itu, umat Islam hanya akan selamat apabila membaca Al-Qur’an diikuti dengan pemahaman yang benar dan beramal dengan kandungan al-Qur’an.

2. Memahami Al-Qur’an 

Al-Qur’an ialah perkataan Allah yang turun dari arasy ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Ia merupakan wahyu. Kandungan Al-Qur’an tidak dapat difahami dengan tepat melainkan dengan pemahaman yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada sahabat-sahabat beliau.

Tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang mengajak untuk kembali kepada kandungan Al-Qur’an. Namun, dek kerana kaedah memahaminya melencong dari yang ditunjukkan oleh generasi awal Islam (salafussoleh), muncul banyak kesalahan. Maka muncul golongan-golongan sesat seperti Syi’ah, khawarij, muktazilah, Islam liberal, teroris dan banyak lagi. Semua mereka itu membawa slogan untuk kembali kepada Al-Qur’an. 

Allah tidak membebankan hambanya dengan sesuatu perkara yang sukar. Hal ini termasuklah dalam memahami Al-Qur’an. Allah telah memberi jaminan hal ini dalam Al-Qur’an,

“Dan sesungguhnya kami telah mudahkan pembelajaran Al-Qur’an, maka adakah orang-orang yang mengambil pengajaran?” (Surah Al-Qamar, ayat 17) 

Imam Syafi’i berpesan, “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an, maka harga dirinya menjadi mulia”. 

Untuk tujuan itu sarjana Islam telah menyusun beberapa kaedah untuk memahami Al-Qur’an. Ia bukan sekadar menguasai bahasa Arab dengan baik. Antara buku yang disusun membahas perkara ini ialah Bagaimana Memahami Al-Qur’an karangan Syaikh Muhammad Jamil Zainu. Beliau merupakan salah seorang tenaga pengajar di Masjidil Haram Mekah. Tahap-tahap memahami Al-Qur’an :

 

  • Memahami ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain. Sebuah buku yang terkenal menyusun pemahaman ayat al-Qur’an berdasarkan ayat al-Qur’an yang lain ialah buku Adhwaul Bayan karangan Syaikh Muhammad Amin Syanqiti.
  • Memahami ayat Al-Qur’an dengan penjelasan hadith Nabi Muhammad.
  • Memahami ayat Al-Qur’an dengan penjelasan sahabat. Antara sahabat nabi yang terkenal dan paling banyak membuat penjelasan ayat al-Qur’an ialah Sahabat Ali bin Abi Talib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan beberapa sahabat yang lain.
  • Memahami ayat Al-Qur’an dengan penjelasan anak-anak murid sahabat yang digelar sebagai tabi’in seperti Mujahid, ‘Ikrimah, Atha bin Abi Robah dan Said bin Jubayr. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis dalam Muqadimah Usul Tafsir,”Manusia yang paling arif tentang tafsir Al-Qur’an ialah penduduk Mekah, kerana mereka adalah anak murid Abdullah bin Abbas”.

Penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an ini kebanyakannya dihimpunkan oleh sarjana Islam menjadi sebuah kitab tafsir. Antara kitab tafsir yang diiktiraf dan dipercayai menghurai isi kandungan Al-Qur’an berdasarkan pemahaman Nabi Muhammad, para sahabat dan anak-anak murid sahabat ialah Tafsir Al-Qur’an ‘Azim karangan Al-Hafidz Ibnu Kathir. Ia juga dikenali sebagai Tafsir Ibnu Kathir dan sudahpun diterjemah ke dalam banyak bahasa dunia termasuk bahasa Melayu.

Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Soleh al-Uthaimin (semoga Allah merahmatinya) di dalam bukunya Kitab al-Ilmu mencadangkan beberapa tafsir kontemporari seperti Taysirul Karim Rahman fi Tafsir Kalam Manan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nassir as-Sa’di (semoga Allah merahmatinya). Ini adalah kitab yang bagus, mudah dan aman. Juga Adhwa’ul Bayan, karya al-’llamah Muhammad asy-Syinqithi (semoga Allah merahmatinya). Ini adalah kitab yang memadukan antara hadith, fiqih, tafsir dan usul fiqih.

Selain itu, sebuah lagi kitab tafsir kontemporari yang baik ialah Tafsir al-Aisar, karya Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Kitab tafsir ini dipuji oleh banyak sarjana kemudian kerana menafsirkan ayat dengan sistematik. Kesemua kitab-kitab tafsir ini sudah pun diterjemah ke dalam beberapa bahasa utama termasuk bahasa Melayu.

3. Mengamalkan kandungan Al-Qur’an

Pepata Arab ada menyebut,

Ilmu tanpa amal,

Ibarat pohon tanpa buah,

Ilmu tanpa amal,

Ibarat awan tanpa hujan,

Amal tanpa ilmu,

Amalnya tidak diterima dan tertolak.

Ada sebuah analogi yang menarik kepada orang-orang yang enggan beramal dengan isi kandungan kitab yang telah diturunkan kepada mereka.

“Analogi orang-orang yang diberikan Taurat, kemudian mereka tidak beramal dengannya adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal”. (Surah Al-Jumu’ah, ayat 5)

Teladan yang paling baik umat Islam dalam mengamalkan Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan ialah anak-anak didik Nabi Muhammad sendiri. Mereka ini digelar sebagai sahabat nabi, iaitu orang-orang yang beriman dan sempat bertemu secara semuka dengan Nabi Muhammad.

Sahabat-sahabat Nabi Muhammad pernah bercerita kepada Abu Abdurrahman As-Sulami, bahawa Nabi Muhammad mengajar Al-Qur’an sepuluh ayat. Mereka tidak akan berpindah kepada ayat Al-Qur’an yang baru sebelum mereka faham dan beramal dengan ayat itu. (Hadis Ahmad)

Manaka seorang sahabat muda Abdullah bin Umar pula berkata, “Seorang yang terbaik dari sahabat Nabi Muhammad tidak menghafal Al-Qur’an kecuali satu surah atau semisal dengannya. Mereka mendapat rezeki dengan mengamalkan Al-Qur’an. Sedangkan pengikut akhir dari umat ini membaca Al-Qur’an, di antara mereka ada anak kecil dan seorang yang buta. Namun mereka tidak mendapatkan rezeki mengamalkan Al-Qur’an”.

Dan seorang lagi sahabat nabi yang terkenal bijak dan cerdas Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami merasakan sulit untuk menghafal lafadz Al-Qur’an dan mudah bagi kami untuk mengamalkannya. Sesungguhnya orang-orang setelah kami, mereka akan mudah menghafal Al-Qur’an namun mereka sulit untuk mengamalkannya”.

Berdasarkan kefahaman beberapa kisah di atas, kita dapat fahami bahawa cabaran mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an jauh lebih berat berbanding cabaran menghafal Al-Qur’an.

4. Menghafal Al-Qur’an

Hafalan merupakan satu aspek penting dalam disiplin ilmu Islam. Hafalan mampu membaiki kefahaman terhadap sesuatu ilmu. Sarjana Islam generasi awal mula belajar dengan menghafal Al-Qur’an. Imam Syafi’i dilaporkan menghafal Al-Qur’an dalam usia yang sangat muda. Beliau juga menghafal seluruh kandungan kitab Muwatta’ sebelum belajar kandungannya bersama Imam Malik.

Kedudukan orang-orang yang menghafal Al-Qur’an sangat tinggi. Ini dijelaskan dalam beberapa hadith nabi,

“Nabi  Muhammad mengumpulkan di antara dua orang yang mati syahid dalam Perang Uhud kemudian beliau bersabda, “Yang mana lebih banyak hafal Al Quran”, ketika ditunjuk salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (Hadis Bukhari)

“Yang menjadi imam dalam sholat suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (Hadis Muslim)

“Dan perumpamaan orang yang membaca Quran sedangkan ia hafal ayat-ayatNya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Hadis Bukhari & Muslim)

“Nabi Muhammad mengutus sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian beliau menguji hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampai pada giliran sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surah apa yang kau hafal? Ia menjawab, “Aku hafal suratini..suratini..dan suratAl Baqarah.”Benarkah kau hafal surah Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (Hadis Tirmudzi dan An-Nasa’i)

“Orang yang hafal Al Quran nanti akan datang dan Al Quran akan berkata: “Wahai Tuhan, pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.”Maka orang tersebut diberikan makhota kehormatan. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan tambahkanlah pakaiannya.” Maka orang itu diberi pakaian kehormatannya. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan, redailah dia.” Maka kepadanya dikatakan, “Baca dan naiklah.” Dan untuk setiap ayat, ia diberi tambahan satu kebajikan.” (Hadis Tirmidzi)

Beberapa peristiwa ini menunjukkan orang yang menghafal Al-Qur’an mempunyai banyak keutamaan.

Berdasarkan sejarah, majoriti sarjana Islam memulakan pelajaran dengan belajar dan hafal Al-Qur’an. Ini membuktikan belajar Al-Qur’an sekaligus menghafalnya tidak akan membataskan potensi dan kemampuan seorang pelajar. Bahkan yang berlaku adalah sebaliknya, belajar dan hafal Al-Qur’an berupaya meningkatkan kecerdasan dan daya fikir.

Read Full Post »

TARTIL KETIKA MEMBACA AL-QUR’AN 

Umat Islam berlumba-lumba membaca Al-Qur’an dengan banyak pada bulan Ramadhan. Beberapa perkara perlu diberi perhatian ketika membaca Al-Qur’an. Ini kerana tuntutan membaca Al-Qur’an bukan sekadar membaca sahaja, sebaliknya dibaca dengan tartil. Seperti kata Allah dalam Al-Qur’an,

Bacalah Al-Qur’an dengan bacaan yang betul (tartil)” (Surah Muzammil, ayat 4).

Syaikh Soleh Fauzan al-Fauzan ketika ditanya tentang maksud tartil menjawab,

Membaca Al-Qur’an dengan tartil tidak cepat dan tidak pula terlalu memanjangkan madnya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berlagak menjadi ulama dan yang mengaku pandai tajwid, ini bukan tajwid, ini bukan tajwid! Ini seperti menyanyi“.

1. Membaca Ayat Secara Bersambung

Terdapat sebilangan orang Islam yang ghairah untuk menamatkan bacaan Al-Qur’an sekurang-kurangnya sekali dalam bulan Ramadhan. Demi mengejar jumlah ayat, adakalnya ayat-ayat Al-Qur’an dibaca cepat-cepat dengan mengabaikan hukum tajwid dan mad. Satu perkara yang sering dilakukan oleh pembaca Al-Qur’an ialah mengabaikan mad dan waqaf (berhenti pada hujung ayat). Bahkan tidak sedikit dari kalangan imam terutamanya imam solat terawih yang mengabaikan waqaf.

Sesetengah mereka beralasan untuk mendapatkan pahala lebih dengan menzahirkan sebutan huruf-huruf akhir pada setiap ayat. Yang nyata ia bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad.

Ummu Salamah, salah seorang isteri Nabi Muhammad pernah menceritakan,

“Nabi Muhammad memotong-motong bacaan Al-Qur’annya ; beliau membaca “Alhamdulillahi robbil alamin” kemudian berhenti, lalu membaca “Ar-rahmanirrahim”, kemudia berhenti, lalau membaca, “Maliki yaumiddin”. (HR Tirmidzi) 

Perbincangan tentang hadith ini telah disebutkan oleh sarjana Islam Ibnu Qayyim al-Jawziyah di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad,

Cara yang paling baik ialah berhenti di setiap penghujung ayat, meskipun ayat itu berkaitan dengan ayat berikutnya. Sebahagin pakar Al-Qur’an berpendapat agar bacaan ayat yang berkaitan disambung sahaja tanpa berhenti. Namun mengikut petunjuk Nabi Muhammad dan Sunnahnya lebih utama”.

Sarjana hadith mutakhir Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani juga berkongsi pandangan yang sama. Kata beliau, “Berhenti di hujung ayat termasuk amalan sunnah yang banyak ditinggalkan oleh pembaca Al-Qur’an hari ini”. 

2. Membaca Dengan Baik vs Membaca dengan Jumlah Yang Banyak 

Ganjaran membaca Al-Qur’an dikira pada jumlah huruf yang dibaca. Ini dapat difahami dari hadith nabi,

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan akan dilipatkan gandakan sepuluh, aku tidak mengatakan (آلـم) satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf“ (HR Bukhari)   

Sejumlah orang berusaha untuk membaca sebanyak yang mungkin demi mengejar pahala huruf demi huruf. Hingga sebahagian dari mereka mengabaikan tartil yang dituntut oleh Al-Qur’an sendiri, “bacalah Al-Qur’an dengan bacaan yang betul (tartil)” (Surah Muzammi, ayat 4).

Hal ini telah dibahaskan oleh sarjana Islam sejak dahulu lagi. Antara membaca sedikit secara tartil dan membaca banyak tanpa tartil, yang manakah lebih utama? Hal ini dijelaskan oleh Prof Dr Ibrahim bin Amir Ruhaili di dalam buku beliau yang bertajuk “Amal Apa Yang Paling Utama?”

Sarjana Islam berbelah-bagi pendapat menentuka amal yang mana lebih utama. Masing-masing membawakan argumen. Namun pengarang buku ini memilik untuk menguatkan pandangan yang mengatakan membaca Al-Qur’an secara tartil dengan jumlah yang sedikit lebih utama berbanding membaca Al-Qur’an dengan banyak secara tidak tartil.

Beliau membawakan perkataan Imam Nawawi, “Ulama sepakat makruh membaca Al-Qur’an dengan cepat dan berlebih-lebihan. Mereka mengatakan membaca satu juz Al-Qur’an dengan tartil lebih utama dari membaca dua juz Al-Qur’an dengan waktu yang sama tanpa tartil”.

Pendapat ini dipilih berdasarkan dalil ayat Al-Qur’an,

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa Maha Pengampun”. (Surah Al-Mulk, ayat 2)

Ayat ini menjelaskan bahawa keutamaan sesuatu amal itu bergantung pada kualiti perlaksanaan, bukan berdasarkan kuantiti.

 

Read Full Post »

Tanggungjawab Terhadap Al-Qur’an

Secara umumnya ada empat tanggungjawab umat Islam terhadap Al-Qur’an. Pertama membaca Al-Qur’an, kedua memahami Al-Qur’an, ketiga mengamalkan kandungan Al-Qur’an dan keempat menghafal Al-Qur’an.

Bab ini tidak akan merincikan keempat-empat tanggungjawab umum umat Islam terhadap Al-Qur’an. Tulisan ini sekadar pengenalan atau sekilas pandang berkaitan topik yang dibicarakan.

1. Membaca Al-Qur’an

Tuntutan membaca Al-Qur’an sudah dijelaskan dalam bab yang berasingan. Nabi mengumpakana rumah yang tidak pernah dibaca Al-Qur’an di dalamnya sebagai kubur. Sarjana Islam menyatakan jangka masa yang ideal untuk mengkhatam Al-Qur’an ialah 40 hari sekali tamat membaca Al-Qur’an. Ia bukanlah suatu yang wajib, namun lebih merupakan anjuran dan galakan.

Ada sekelompok dari umat Islam berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan sekadar membacanya sahaja. Bacaan mereka sangat baik dan amal ibadah mereka juga antara yang terbaik dari kalangan umat Islam. Situasi begini sudahpun berlaku sejak zaman Nabi Muhammad masih hidup lagi.

Dalam satu peristiwa, sahabat Abu Said al-Khudri melaporkan seorang lelaki bernam Zul Khuwaisirah dari pernah mempertikaikan keputusan Nabi Muhammad. Dari keturunan lelaki ini kemudian lahirnya satu puak sesat dari umat Islam bernama Khawarij. Kata nabi kepada golongan ini,

“Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkong mereka, mereka terkeluar dari Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya”. (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad) 

Golongan Khawarij termasuk dari 1 dari 72 pecahan umat Islam yang sesat. Namun kesesatan mereka dikaburi dengan ibadah zahir yang mereka lakukan dan bacaan al-Qur’an yang mereka lagukan. Dalam satu hadith yang lain Nabi Muhammad berpesan lagi,

“Akan keluar satu kaum (Khawarij) dari umatku yang membaca al-Quran, mereka menyangka bahawasanya diberi pahala untuk mereka padahal (kemurkaan Allah) atas mereka. Solat mereka pula tidak melepasi tenggorokan mereka”. (HR Muslim)

Justeru itu, umat Islam hanya akan selamat apabila membaca Al-Qur’an diikuti dengan pemahaman yang benar dan beramal dengan kandungan al-Qur’an.

2. Memahami Al-Qur’an 

Al-Qur’an ialah perkataan Allah yang turun dari arasy ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Ia merupakan wahyu. Kandungan Al-Qur’an tidak dapat difahami dengan tepat melainkan dengan pemahaman yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada sahabat-sahabat beliau.

Tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang mengajak untuk kembali kepada kandungan Al-Qur’an. Namun, dek kerana kaedah memahaminya melencong dari yang ditunjukkan oleh generasi awal Islam (salafussoleh), muncul banyak kesalahan. Maka muncul golongan-golongan sesat seperti Syi’ah, khawarij, muktazilah, Islam liberal, teroris dan banyak lagi. Semua mereka itu membawa slogan untuk kembali kepada Al-Qur’an. 

Allah tidak membebankan hambanya dengan sesuatu perkara yang sukar. Hal ini termasuklah dalam memahami Al-Qur’an. Allah telah memberi jaminan hal ini dalam Al-Qur’an,

“Dan sesungguhnya kami telah mudahkan pembelajaran Al-Qur’an, maka adakah orang-orang yang mengambil pengajaran?” (Surah Al-Qamar, ayat 17) 

Imam Syafi’i berpesan, “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an, maka harga dirinya menjadi mulia”. 

Untuk tujuan itu sarjana Islam telah menyusun beberapa kaedah untuk memahami Al-Qur’an. Ia bukan sekadar menguasai bahasa Arab dengan baik. Antara buku yang disusun membahas perkara ini ialah Bagaimana Memahami Al-Qur’an karangan Syaikh Muhammad Jamil Zainu. Beliau merupakan salah seorang tenaga pengajar di Masjidil Haram Mekah. Tahap-tahap memahami Al-Qur’an :

  • Memahami ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain. Sebuah buku yang terkenal menyusun pemahaman ayat al-Qur’an berdasarkan ayat al-Qur’an yang lain ialah buku Adhwaul Bayan karangan Syaikh Muhammad Amin Syanqiti.
  • Memahami ayat Al-Qur’an dengan penjelasan hadith Nabi Muhammad.
  • Memahami ayat Al-Qur’an dengan penjelasan sahabat. Antara sahabat nabi yang terkenal dan paling banyak membuat penjelasan ayat al-Qur’an ialah Sahabat Ali bin Abi Talib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan beberapa sahabat yang lain.
  • Memahami ayat Al-Qur’an dengan penjelasan anak-anak murid sahabat yang digelar sebagai tabi’in seperti Mujahid, ‘Ikrimah, Atha bin Abi Robah dan Said bin Jubayr. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis dalam Muqadimah Usul Tafsir,”Manusia yang paling arif tentang tafsir Al-Qur’an ialah penduduk Mekah, kerana mereka adalah anak murid Abdullah bin Abbas”.

Penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an ini kebanyakannya dihimpunkan oleh sarjana Islam menjadi sebuah kitab tafsir. Antara kitab tafsir yang diiktiraf dan dipercayai menghurai isi kandungan Al-Qur’an berdasarkan pemahaman Nabi Muhammad, para sahabat dan anak-anak murid sahabat ialah Tafsir Al-Qur’an ‘Azim karangan Al-Hafidz Ibnu Kathir. Ia juga dikenali sebagai Tafsir Ibnu Kathir dan sudahpun diterjemah ke dalam banyak bahasa dunia termasuk bahasa Melayu.

Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Soleh al-Uthaimin (semoga Allah merahmatinya) di dalam bukunya Kitab al-Ilmu mencadangkan beberapa tafsir kontemporari seperti Taysirul Karim Rahman fi Tafsir Kalam Manan, karya Syaikh Abdurrahman bin Nassir as-Sa’di (semoga Allah merahmatinya). Ini adalah kitab yang bagus, mudah dan aman. Juga Adhwa’ul Bayan, karya al-’llamah Muhammad asy-Syinqithi (semoga Allah merahmatinya). Ini adalah kitab yang memadukan antara hadith, fiqih, tafsir dan usul fiqih.

Selain itu, sebuah lagi kitab tafsir kontemporari yang baik ialah Tafsir al-Aisar, karya Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi. Kitab tafsir ini dipuji oleh banyak sarjana kemudian kerana menafsirkan ayat dengan sistematik. Kesemua kitab-kitab tafsir ini sudah pun diterjemah ke dalam beberapa bahasa utama termasuk bahasa Melayu.

3. Mengamalkan kandungan Al-Qur’an

Pepata Arab ada menyebut,

Ilmu tanpa amal,

Ibarat pohon tanpa buah,

Ilmu tanpa amal,

Ibarat awan tanpa hujan,

Amal tanpa ilmu,

Amalnya tidak diterima dan tertolak.

Ada sebuah analogi yang menarik kepada orang-orang yang enggan beramal dengan isi kandungan kitab yang telah diturunkan kepada mereka.

“Analogi orang-orang yang diberikan Taurat, kemudian mereka tidak beramal dengannya adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal”. (Surah Al-Jumu’ah, ayat 5)

Teladan yang paling baik umat Islam dalam mengamalkan Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan ialah anak-anak didik Nabi Muhammad sendiri. Mereka ini digelar sebagai sahabat nabi, iaitu orang-orang yang beriman dan sempat bertemu secara semuka dengan Nabi Muhammad.

Sahabat-sahabat Nabi Muhammad pernah bercerita kepada Abu Abdurrahman As-Sulami, bahawa Nabi Muhammad mengajar Al-Qur’an sepuluh ayat. Mereka tidak akan berpindah kepada ayat Al-Qur’an yang baru sebelum mereka faham dan beramal dengan ayat itu. (Hadis Ahmad)

Manaka seorang sahabat muda Abdullah bin Umar pula berkata, “Seorang yang terbaik dari sahabat Nabi Muhammad tidak menghafal Al-Qur’an kecuali satu surah atau semisal dengannya. Mereka mendapat rezeki dengan mengamalkan Al-Qur’an. Sedangkan pengikut akhir dari umat ini membaca Al-Qur’an, di antara mereka ada anak kecil dan seorang yang buta. Namun mereka tidak mendapatkan rezeki mengamalkan Al-Qur’an”.

Dan seorang lagi sahabat nabi yang terkenal bijak dan cerdas Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami merasakan sulit untuk menghafal lafadz Al-Qur’an dan mudah bagi kami untuk mengamalkannya. Sesungguhnya orang-orang setelah kami, mereka akan mudah menghafal Al-Qur’an namun mereka sulit untuk mengamalkannya”.

Berdasarkan kefahaman beberapa kisah di atas, kita dapat fahami bahawa cabaran mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an jauh lebih berat berbanding cabaran menghafal Al-Qur’an.

4. Menghafal Al-Qur’an

Hafalan merupakan satu aspek penting dalam disiplin ilmu Islam. Hafalan mampu membaiki kefahaman terhadap sesuatu ilmu. Sarjana Islam generasi awal mula belajar dengan menghafal Al-Qur’an. Imam Syafi’i dilaporkan menghafal Al-Qur’an dalam usia yang sangat muda. Beliau juga menghafal seluruh kandungan kitab Muwatta’ sebelum belajar kandungannya bersama Imam Malik.

Kedudukan orang-orang yang menghafal Al-Qur’an sangat tinggi. Ini dijelaskan dalam beberapa hadith nabi,

“Nabi  Muhammad mengumpulkan di antara dua orang yang mati syahid dalam Perang Uhud kemudian beliau bersabda, “Yang mana lebih banyak hafal Al Quran”, ketika ditunjuk salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (Hadis Bukhari)

“Yang menjadi imam dalam sholat suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (Hadis Muslim)

“Dan perumpamaan orang yang membaca Quran sedangkan ia hafal ayat-ayatNya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Hadis Bukhari & Muslim)

 “Nabi Muhammad mengutus sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian beliau menguji hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampai pada giliran sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surah apa yang kau hafal? Ia menjawab, “Aku hafal suratini..suratini..dan suratAl Baqarah.”Benarkah kau hafal surah Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (Hadis Tirmudzi dan An-Nasa’i)

“Orang yang hafal Al Quran nanti akan datang dan Al Quran akan berkata: “Wahai Tuhan, pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.”Maka orang tersebut diberikan makhota kehormatan. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan tambahkanlah pakaiannya.” Maka orang itu diberi pakaian kehormatannya. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan, redailah dia.” Maka kepadanya dikatakan, “Baca dan naiklah.” Dan untuk setiap ayat, ia diberi tambahan satu kebajikan.” (Hadis Tirmidzi)

Beberapa peristiwa ini menunjukkan orang yang menghafal Al-Qur’an mempunyai banyak keutamaan.

Berdasarkan sejarah, majoriti sarjana Islam memulakan pelajaran dengan belajar dan hafal Al-Qur’an. Ini membuktikan belajar Al-Qur’an sekaligus menghafalnya tidak akan membataskan potensi dan kemampuan seorang pelajar. Bahkan yang berlaku adalah sebaliknya, belajar dan hafal Al-Qur’an berupaya meningkatkan kecerdasan dan daya fikir.


Read Full Post »

TARTIL KETIKA MEMBACA AL-QUR’AN 

Umat Islam berlumba-lumba membaca Al-Qur’an dengan banyak pada bulan Ramadhan. Beberapa perkara perlu diberi perhatian ketika membaca Al-Qur’an. Ini kerana tuntutan membaca Al-Qur’an bukan sekadar membaca sahaja, sebaliknya dibaca dengan tartil. Seperti kata Allah dalam Al-Qur’an, “Bacalah Al-Qur’an dengan bacaan yang betul (tartil)” (Surah Muzammi, ayat 4).

Syaikh Soleh Fauzan al-Fauzan ketika ditanya tentang maksud tartil menjawab,

Membaca Al-Qur’an dengan tartil tidak cepat dan tidak pula terlalu memanjangkan madnya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berlagak menjadi ulama dan yang mengaku pandai tajwid, ini bukan tajwid, ini bukan tajwid! Ini seperti menyanyi“.

1. Membaca Ayat Secara Bersambung

Terdapat sebilangan orang Islam yang ghairah untuk menamatkan bacaan Al-Qur’an sekurang-kurangnya sekali dalam bulan Ramadhan. Demi mengejar jumlah ayat, adakalnya ayat-ayat Al-Qur’an dibaca cepat-cepat dengan mengabaikan hukum tajwid dan mad. Satu perkara yang sering dilakukan oleh pembaca Al-Qur’an ialah mengabaikan mad dan waqaf (berhenti pada hujung ayat). Bahkan tidak sedikit dari kalangan imam terutamanya imam solat terawih yang mengabaikan waqaf.

Sesetengah mereka beralasan untuk mendapatkan pahala lebih dengan menzahirkan sebutan huruf-huruf akhir pada setiap ayat. Yang nyata ia bertentangan dengan apa yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad.

Ummu Salamah, salah seorang isteri Nabi Muhammad pernah menceritakan,

“Nabi Muhammad memotong-motong bacaan Al-Qur’annya ; beliau membaca “Alhamdulillahi robbil alamin” kemudian berhenti, lalu membaca “Ar-rahmanirrahim”, kemudia berhenti, lalau membaca, “Maliki yaumiddin”. (HR Tirmidzi) 

Perbincangan tentang hadith ini telah disebutkan oleh sarjana Islam Ibnu Qayyim al-Jawziyah di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad,

Cara yang paling baik ialah berhenti di setiap penghujung ayat, meskipun ayat itu berkaitan dengan ayat berikutnya. Sebahagin pakar Al-Qur’an berpendapat agar bacaan ayat yang berkaitan disambung sahaja tanpa berhenti. Namun mengikut petunjuk Nabi Muhammad dan Sunnahnya lebih utama”.

Sarjana hadith mutakhir Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani juga berkongsi pandangan yang sama. Kata beliau, “Berhenti di hujung ayat termasuk amalan sunnah yang banyak ditinggalkan oleh pembaca Al-Qur’an hari ini”. 

2. Membaca Dengan Baik vs Membaca dengan Jumlah Yang Banyak 

Ganjaran membaca Al-Qur’an dikira pada jumlah huruf yang dibaca. Ini dapat difahami dari hadith nabi,

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan akan dilipatkan gandakan sepuluh, aku tidak mengatakan (آلـم) satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf“ (HR Bukhari)   

Sejumlah orang berusaha untuk membaca sebanyak yang mungkin demi mengejar pahala huruf demi huruf. Hingga sebahagian dari mereka mengabaikan tartil yang dituntut oleh Al-Qur’an sendiri, “bacalah Al-Qur’an dengan bacaan yang betul (tartil)” (Surah Muzammi, ayat 4).

Hal ini telah dibahaskan oleh sarjana Islam sejak dahulu lagi. Antara membaca sedikit secara tartil dan membaca banyak tanpa tartil, yang manakah lebih utama? Hal ini dijelaskan oleh Prof Dr Ibrahim bin Amir Ruhaili di dalam buku beliau yang bertajuk “Amal Apa Yang Paling Utama?”

Sarjana Islam berbelah-bagi pendapat menentuka amal yang mana lebih utama. Masing-masing membawakan argumen. Namun pengarang buku ini memilih untuk menguatkan pandangan yang mengatakan membaca Al-Qur’an secara tartil dengan jumlah yang sedikit lebih utama berbanding membaca Al-Qur’an dengan banyak secara tidak tartil.

Beliau membawakan perkataan Imam Nawawi, “Ulama sepakat makruh membaca Al-Qur’an dengan cepat dan berlebih-lebihan. Mereka mengatakan membaca satu juz Al-Qur’an dengan tartil lebih utama dari membaca dua juz Al-Qur’an dengan waktu yang sama tanpa tartil”.

Pendapat ini dipilih berdasarkan dalil ayat Al-Qur’an,

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa Maha Pengampun”. (Surah Al-Mulk, ayat 2)

Ayat ini menjelaskan bahawa keutamaan sesuatu amal itu bergantung pada kualiti perlaksanaan, bukan berdasarkan kuantiti.

Read Full Post »

1. Mudah ingat

Tidakkah Engkau melihat (Wahai Muhammad) Bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, iaitu: kalimah Yang baik adalah sebagai sebatang pohon Yang baik, Yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh, dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Dia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa Dengan izin Tuhannya. dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka selalu ingat. Dan bandingan kalimah Yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon Yang tidak berguna Yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup.

(Surah Ibrahim 24-26)

2. Mendekatkan makna dan meningkatkan daya faham

Pakar psikologi klasik Islam, Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyah (691- 751H /1292-1350M) menjelaskan beberapa manfaat analogi di dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in,

“Satu hal yang sudah disepakati bahawa sebuah tamsil (analogi) dapat membuat jiwa lebih dekat dan lebih cepat dalam menerima sebuah penjelasan, hingga pada gilirannya akan membuat jiwa tersebut tunduk terhadap kebenaran yang diumpamakan dengan tamsil tersebut. Semakin lugas sebuah tamsil, semakin jelas pula maksud yang sampai.”

Ibn Hajar al-Asqalani (- 852H / 1372-1448M) ketika mensyarahkan sebuah hadis Nabi yang “Perumpamaanku dan Nabi-Nabi sebelumku seperti seorang laki-laki yag membangun sebuah rumah...”,

“Di dalam hadis tersebut terkandung pelajaran membuat perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman.” (Fathul Bari, Kitab Manqib, no 3535)

Imam Syaukanni (1759–1834M) juga menukilkan dalam kitab tafsirnya Fathul Qadir,

“Membuat perumpamaan mengandun nilau plus bagi daya ingat dan daya faham, serta merupakan visualisasi makna.”

Manakala pakar tafsir moden, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (1307 – 1376H / 1889–1956M) menukilkan dalam kitabnya Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir al-Qur’an,

“Dengan membuat pemisalan, bererti mendekatkan makna-makna yang rasional dari contoh-contoh yang dapat dirasa dan makna yang dikehendaki oleh Allah nampak jelas dan terang seterang-terangnya. Ini termasuk Rahmat Allah dan pengajaranNya yang sempurna. Maka bagi Allah-lah kesempurnaan dan seluas-luas pujian.”

3. Penguat dan penegas

Ibnu Qayyim menyatakan,

“Tamsil ialah penguat dan penegas bagi pesan yang ingin disampaikan. Ia seperti tanaman yang mengekuarkan tunas, lalu tunas itu menjadikan tanaman tersebut semakin kukuh, besar dan tegak di atas batangnya. Tamsil adalah kekhususan, inti, sekaligus buah dari akal.”

Bacaan Tambahan :

  1. Bersama Rasulullah Mendidik Generasi Idaman, Dr Fadhl Ilahi, terjemahan Ahmad Yunus, Pustaka Imam Asy-Syafi’i 2010. Beli di sini.
  2. Begini Seharusnya Menjadi Guru, Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, terjemahan Jamaluddin, cetakan kedua Darul Haq 2009.

Read Full Post »

Satu dari faedah dari penggunaan analogi atau perbandingan ialah untuk memahatkan ingatan terhadap perkara yang disampaikan. Dalilnya,

Tidakkah Engkau melihat (Wahai Muhammad) Bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, iaitu: kalimah Yang baik adalah sebagai sebatang pohon Yang baik, Yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh, dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Dia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa Dengan izin Tuhannya. dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka selalu ingat. Dan bandingan kalimah Yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon Yang tidak berguna Yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup.

(Surah Ibrahim 24-26)

Read Full Post »

Older Posts »