Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘pendidikan’

Kepentingan Kisah Dalam al-Qur’an

Secara bahasa kata al-Qashash dan al-Qushsh maknanya mengikuti atsar (jejak/bekas). Sedangkan secara istilah maknanya adalah informasi mengenai suatu kejadian/perkara yang berperiodik di mana satu sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai).

Kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan kisah paling benar sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah.?” (QS.an-Nisa’/4:87). Hal ini, kerana kesesuaiannya dengan realiti sangatlah sempurna.

Kisah al-Qur’an juga merupakan sebaik-baik kisah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala, “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu.” (QS.Yusuf/12:3). Hal ini, kerana ia mencakup tingkatan kesempurnaan paling tinggi dalam capaian balaghah dan keagungan maknanya.

Kisah al-Qur’an juga merupakan kisah paling bermanfa’at sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.Yusuf/12:111). Hal ini, kerana pengaruhnya terhadap perbaikan hati, perbuatan dan akhlaq amat kuat.

Jenis-Jenis Kisah 

Kisah al-Qur’an terbahagi menjadi 3 jenis:

1. Kisah mengenai para nabi dan Rasul serta hal-hal yang terjadi antara mereka dan orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir.

2. Kisah mengenai individu-individu dan golongan-golongan tertentu yang mengandungi pelajaran. Kerananya, Allah mengisahkan mereka seperti kisah Maryam, Luqman, orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya (seperti tertera dalam surat al-Baqarah/2:259), Dzulqarnain, Qarun, Ash-habul Kahf, Ash-habul Fiil, Ash-habul Ukhdud dan lain sebagainya.

3. Kisah mengenai kejadian-kejadian dan kaum-kaum pada masa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam seperti kisah perang Badar, Uhud, Ahzab (Khandaq), Bani Quraizhah, Bani an-Nadhir, Zaid bin Haritsah, Abu Lahab dan sebagainya.

Beberapa Hikmah Penampilan Kisah

Hikmah yang dapat dipetik banyak sekali, di antaranya:

a. Penjelasan mengenai hikmah Allah ta’ala dalam kandungan kisah-kisah tersebut, sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran). Itulah suatu hikmat yang sempurna, maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka).” (al-Qamar/54:4-5)

b. Penjelasan keadilan Allah ta’ala melalui hukuman-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan-Nya. Dalam hal ini, firman-Nya mengenai orang-orang yang mendustakan itu, “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, kerana itu tiadalah bermanfa’at sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan.” (QS. hud/11:101)

c. Penjelasan mengenai kurnia-Nya berupa diberikannya pahala kepada orang-orang beriman. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing.” (QS. Al-qamar/54:34)

d. Hiburan bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam atas sikap yang dilakukan orang-orang yang mendustakannya terhadapnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” (QS.fathir/35:25-26)

e. Cadangan bagi kaum Mukminin dalam hal keimanan di mana dituntut agar tegar di atasnya bahkan menambah frekuensinya sebab mereka mengetahui bagaimana kaum Mukminin terdahulu selamat dan bagaimana mereka menang saat diperintahkan berjihad. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dari menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikian itulah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS.al-Anbiya’/21:88) Dan firman-Nya yang lain, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS.ar-Rum/30:47)

f. Peringatan kepada orang-orang kafir akan akibat terus menerusnya mereka dalam kekufuran. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (QS.muhammad/47:10)

g. Menetapkan risalah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebab berita-berita tentang umat-umat terdahulu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (QS.Hud/11:49) Dan firman-Nya, “”Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (iaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.” (Ibrahim/14:9)

Apa Faedah Pengulangan Kisah?

Ada di antara kisah-kisah al-Qur’an yang hanya disebutkan satu kali saja seperti kisah Luqman dan Ash-habul Kahf. Ada pula yang disebutkan berulang kali sesuai dengan keperluan dan mashlahah. Pengulangan ini pun tidak dalam satu aspek, tetapi berbeza dari aspek panjang dan pendek, lembut dan keras serta penyebutan sebahagian aspek lain dari kisah itu di satu tempat namun tidak disebutkan di tempat lainnya.

Hikmah Pengulangan Kisah 

Di antara hikmah pengulangan kisah ini adalah:

– Penjelasan betapa pentingnya kisah sebab dengan pengulangannya menunjukkan adanya perhatian penuh terhadapnya.

– Menguatkan kisah itu sehingga tertanam kukuh di hati semua manusia

– Memerhatikan masa dan kondisi orang-orang yang diajak bicara. Kerana itu, anda sering mendapatkan kisahnya begitu singkat dan biasanya keras bila berkenaan dengan kisah-kisah dalam surah-surah Makkiyyah, namun hal sebaliknya terjadi pada kisah-kisah dalam surah-surah Madaniyyah

– Penjelasan sisi balaghah al-Qur’an dalam pemunculan kisah-kisah tersebut dari sisi yang satu atau dari sisi yang lainnya sesuai dengan tuntutan kondisi

– Nampak terangnya kebenaran al-Qur’an dan bahawa ia berasal dari Allah ta’ala dimana sekali pun kisah-kisah tersebut dimuat dalam beragam jenis namun tidak satu pun terjadi kontradiksi.

(SUMBER: Ushuul Fi at-Tafsiir karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal.48-51)

Read Full Post »

Tidak berguna menghafal, jika tidak faham

Tahu dan faham adalah dua perkara yang berbeza, namun ada korelasi antara keduanya. Orang yang faham, sudah semestinya tahu. Namun orang yang tahu, belum tentu faham. Demikian juga dalam hafalan.

Untuk tahu dan hafal, itu bukanlah suatu hal yang paling sukar. Namun untuk faham, itu perlu kepada taufik dan hidayah dari Allah. Justeru dalam sebuah hadis Nabi menyebutkan,

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, niscaya Allah jadikan dia paham terhadap agama-Nya.” (riwayat Imam al-Bukhari dalam Sahihnya Kitabul Ilmi bab Man Yuridillahu Khairan Yufaqqihhu fid Dien dari Muawiyah bin Abi Sufyan hadits ke 71)

Berapa ramai manusia yang hafal al-Qur’an, namun tidak memahami maknanya. Dan ramai juga manusia yang menghafal hadis, namun bertindak di luar apa yang diperintahkan oleh hadis.

Berkaitan fenomena ini, Nabi saw awal-awal lagi sudah menjelaskan kelompok dan variasi manusia terhadap penerimaan dakwah.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ إِسْحَاقُ وَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ قَيَّلَتْ الْمَاءَ قَاعٌ يَعْلُوهُ الْمَاءُ وَالصَّفْصَفُ الْمُسْتَوِي مِنْ الْأَرْضِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala` berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa’atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya”.

Berkata Abu Abdullah; Ishaq berkata: “Dan diantara jenis tanah itu ada yang berbentuk lembah yang dapat menampung air hingga penuh dan diantaranya ada padang sahara yang datar”. (riwayat Imam al-Bukhari, no 77)

Di kalangan generasi awal Islam sedari generasi sahabat lagi, kepelbagaian ini sudah wujud. Dan Islam mengiktiraf kepelbagaian ini. Dalam masa yang sama Islam meletakkan posisi mereka pada tempat yang betul.

Di kalangan sahabat Nabi ada di kalangan mereka yang banyak menghafal hadis dan menjadi antara pakar rujuk dalam berfatwa. Antara yang terkenal ialah isteri Nabi sendiri yakni Aisyah binti Abu Bakar ra dan tiga orang pemuda yang bernama Abdullah (disebut dengan Abadillah). Mereka ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amru al-Asr. Selain faqih yakni faham, mereka juga termasuk senarai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Demikian juga di kalangan sarjana dan ulama’ yang cemerlang dan monumental ialah mereka yang kuat hafalan mereka. Imam Ahmad bin Hanbal diriwayatkan menghafal 1 juta hadis. Demikian juga dengna imam-imam yang lainnya.

Namun begitu terdapat juga sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadis seperti Abu Hurairah ra, namun jarang sekali berfatwa atau mengeluarkan hukum. Selain meriwayatkan banyak hadis, Abu Hurairah juga didoakan oleh Nabi supaya kuat ingatan dan dikasihi oleh umat Islam sepanjang zaman.

“Ya Allah, limpahkanlah perasaan cinta hambaMu ini terhadap hambaMu yang beriman, limpahkanlah juga perasaan cinta mereka terhadapku.” (riwayat Imam Muslim)

Walaupun Abu Hurairah ra tidak berfatwa dari banyaknya hadis yang beliau hafal, namun faedahnya tetap besar kepada umat Islam. Demikian juga dengan sekelian banyaknya penghafal al-Qur’an dan penghafal hadis. Walaupun dari satu sisi mereka memilikih kekurangan untuk memahami dengan terperinci hafalan mereka, namun ia tetap memberi faedah kepada umat Islam yang lain khususnya buat ulama’ dan sarjana yang faqih.

Imam Syafi’I mengatakan :” Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal di antara periwayat hadith di masanya”. Beliau meriwayatkan sebanyak 5374 hadis, baik secara langsung dari Nabi mahupun melalui para sahabat yang lain. Sejumlah 800 perawi lain mengambil hadis melalui beliau.

Baca lagi : http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/16/abu-hurairah-periwayat-hadist-terbanyak/

Read Full Post »

Meluruskan Kesalahan Cara Rasulullah

Judul Asal : Al-Asalib An-Nabawiyah fi At-Ta’amul ma’a Akhtai An-Nas

Penulis : Muhammad Shalil al-Munajid

Penterjemah : Fadhli Bahri

Penerbit : Darul Falah (2001)

172 halaman

Pengarang kitab ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajid hafizahullah merupakan salah seorang anak murid muhaddis Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani. Justeru tidak hairan beliau mengetahui dan menguasai hadis dengan begitu baik.

Nabi Muhammad dikelilingi oleh sahabat dari macam-macam latar-belakang. Ada yang, ada yang muda bahkan ramai juga kanak-kanak kecil. Ada orang Arab, ada orang ulu Badwi, ada juga orang-orang asing seperti Salman al-Farisi, Bilal bir Robah dan juga orang Yahudi.

Dek berbagai latar inilah, makan muncul berbagai-bagai kerenah dan ragam yang perlu ditangani oleh Nabi. Dalam naskah ini beliau menggali sekurang-kurangnya 38 teknik yang digunakan oleh Nabi Muhammad (selawat dan salam buat beliau) untuk membetulkan kesalahan para sahabat di sekelilingnya.

Benar seperti yang ditututkan oleh sahabat Muawiyah bin Hakam as-Sulami, bahawa tidak pernah ada guru sebaik Nabi Muhammad dalam mendidik.

Beberapa contoh Nabi membetulkan kesalahan anak muridnya

Beliau selalu menjelaskan sebab dan alasan disebalik setiap perintah dan larangan yang beliau berikan. Antaranya beliau menjelaskan mudharat atau keburukan dari kesalahan yang dilakukan, seperti dalam hadis,

“Hendaklah kalian meluruskan saf-saf kalian atau (jika tidak) maka Allah pasti membuat perselisihan di antara kalian.” (Hadis Bukhari)

“Rapatkanlah saf-saf kalian, dekatkanlah di antara saf-saf, ratakan leher-leher kalian. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh aku lihat syaitan masuk di antara celah-celah dan syaitan tersebut seperti kambing-kambing hitam.”(Hadis Sahih dari an-Nasa’i)

Nabi juga membezakan kesalahan bersifat peribadi dan kesalahan yang melanggar syariat. Beliau tidak memarahi jika kesalahan itu hanya menyakiti jasadnya. Imam Bukhari merekodkan kisah di mana seorang lelakiu Badwi menyentap kain di leher Nabi sehingga berbekas. Namun Nabi tidak memarahina sekalipun. Begitu juga ketika beliau dicerca dan dilukai dengan balingan batu dan najis ketika berdakwah di Thaif.

Namun jika yang disakiti itu adalah syariat, sikap beliau jelas berbeza.

Tidak Terburu-buru Menjatuhkan Hukuman

Satu dari kebijaksanaan Nabi menangani kesalahan ialah beliau tidak terburu-buru menjatuhkan hukuman. Apabila berlaku kesalahan beliau akan menyiasat secara adil dan memberi peluang kepada pelaku kesalahan untuk memberi penjelasan dan membela diri.

Ini dapat dilihat pada kes seorang sahabat Hatib bin Abi Baltaah yang telah membocorkan rahsia persiapan perang kepada kaum kafir musyrik di Mekah. Walaupun peristiwa itu diberitahu oleh Allah lewat wahyu melalui Jibril, Nabi tetap memanggil Hatib untuk dibicarakan.

Demikiankan beberapa manfaat yang dapat diambil dari buku ini. Sungguh ia memberi banyak ilmu.

Read Full Post »

Dalam nota yang lepasa saya sempat mencatatkan 3 bentuk pengajaran yang disampaikan Luqman kepada anaknya. Iaitu, perintah, larangan dan memberikan perbandingan (analogi).

Analogi

Untuk catatan, analogi merupakan satu kaedah dalam bercerita. Al-Quran dan hadith sangat banyak memuat cerita dan kisah-kisah untuk dijadikan teladan. Antara yang paling masyhur dalam Al-Quran ialah kisah Nabi Yusuf, kisah Nabi Ibrahim, kisah sahabat gua ‘ashabul kahfi’ dan banyak lagi.

Dalam hadith juga disebutkan nabi banyak bercerita seperti kisah Ummu Zarra dan Abu Zarra, kisah pemuda yang membunuh 99 lalu ingin bertaubat dan banyak lagi. Semoga Allah memberi saya kesempatan untuk mencatat secara khusus bab analogi dan kaedah cerita dalam Al-Quran.

Penjelasan dan alasan

Pada bahagian akhir nota yang lalu, saya menyebutkan perintah dan larangan dalam wasiat Luqman berkosngsi satu ciri sepunya. Kedua-duanya tidak berdiri sendiri. Semua perintah dan larangan diikuti dengan penjelasan dan alasan. Saya bawakana analisis (ayat 13-19) dalam rajah dibawah :

(Kita teliti dahulu penjelasan dan alasan yang diberikan oleh Luqman kepada anaknya. Kemudian, kita akan bicarakan pula tentang bentuk-bentuk penjelasan dan alasan yang digunakan)

Surah Luqman Perintah @ Larangan

Penjelasan @ alasan
Ayat 13 Janganlah kamu mempersekutukan Allah Sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar
Ayat 14 dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya ibunya telah mengandungnya dalam keadaan sangat lemah
dan menyusukan dalam masa dua tahun
bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu kepada Akulah jua tempat kembali
Ayat 15 dan jika mereka berdua mendesakmu supaya mensyirikkan Ku dengan sesuatu yang kamu tidak tahu maka janganlah kamu taat kepada mereka;
Akan tetapi layanilah mereka di dunia dengan cara ang baik
Turutlah jalan orang-orang yang rujuk kembali kepada Ku kemudian kepada Akulah tempat kembali kamu semuanya, maka Aku akan menerangkan kepada kamu segala yang kamu telah lakukan
Ayat 16 Wahai anak kesayanganku, sesungguhnya jika ada sesuatu perkara sekalipun seberat bijih sawi, serta ia tersembunyi di dalam batu besar atau di langit atau pun di bumi, sudah tetap akan dibawa oleh Allah (untuk dihakimi dan dibalasNya) kerana sesungguhnya Allah Maha Halus pengetahuanNya; lagi amat meliputi akan segala yang tersembunyi.
Ayat 17 dirikanlah sembahyang
dan suruhlah berbuat kebaikan,
laranglah daripada melakukan perbuatan yang mungkar
bersabarlah atas segala bala bencana yang menimpamu Sesungguhnya hal itu adalah dari perkara-perkara yang utama
Ayat 18 Dan janganlah kamu memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia,
dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan berlagak sombong Sesungguhnya Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri.
Ayat 19 Dan sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan,
juga rendahkanlah suaramu (semasa berkata-kata) Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai

Read Full Post »

Sebahagian ahli pendidikan mengatakan kaedah larangan kurang berkesan dalam mendidik.

Dalam wasiat Luqman kepada anaknya kaedah yang digunakan pelbagai. Ada perintah, ada larangan dan ada kaedah analogi (perbandingan).

Secara sepintas lalu, berdasarkan kiraan saya sekurang-kurangnya ada 9 perkataan berbentuk perintah, 5 perkataan berbentuk larangan dan 2 bentuk analogi digunakan.

Perintah

  1. Berbuat baik kepada kedua orang tua (ayat 14)
  2. Bersyukurlah kepadaku (ayat 14)
  3. Bergaulah dengan mereka di dunia dengan cara yang baik (ayat 15)
  4. Turutlah jalan orang-orang yang rujuk kembali kepadaKu (ayat 15)
  5. Dirikanlah sembahyang (ayat 17)
  6. Suruhlah berbuat kebaikan (ayat 17)
  7. Bersabarlah (ayat 17)
  8. Sederhanakanlah langkahmu semasa berjalan (ayat 19)
  9. Rendahkanlah suaramu (ayat 19)

Larangan

  1. Janganlah engkau syirik kepada Allah (ayat 13)
  2. Dan jika mereka berdua mendesakmu supaya melakukan syirik dengan sesuatu yang engkau tidak tahu maka janganlah engkau taat kepada mereka (ayat 15)
  3. Laranglah daripada melakukan perbuatan yang mungkar (ayat 17)
  4. Janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia (ayat 18)
  5. Janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong (ayat 18)

Analogi

  1. Sesungguhnya jika ada sesuatu perkara (yang baik atau yang buruk) sekalipun seberat bijih sawi, serta ia tersembunyi di dalam batu besar atau di langit atau pun di bumi, sudah tetap akan dibawa oleh Allah (untuk dihakimi dan dibalasNya) (ayat 16)
  2. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai (ayat 19)

Namun masih terlalu awal untuk kita menghujahkan ‘perintah’ lebih berkesan dari ‘larangan’. Ini kerana, dari satu sudut ayat pertama yang mengandungi akidah dan syirik dimulakan dengan ‘larangan’. Bahkan kalimah syahadah juga bermula dengan ‘larangan’.

Hipotesis saya ialah, kedua-dua kaedah digunakan dalam mendidik. Hanya sahaja mungkin nanti, boleh dirincikan lagi situasi bagaimana menggunakan larangan atau perintah. Insya Allah, kita akan buat kajian.

Art of Reasoning

Namun kesemua perintah dan larangan dalam wasiat luqman mempunyai ciri sepunya. Iaitu semua perintah dalam larangan dalam wasiat Luqman kepada anaknya disusuli dengan sebab dan alasan.

Insya Allah, pada kesempatan akan datang kita akan mengkaji sedikit bentuk-bentuk sebab dan alasan yang disebutkan dalam wasiat Luqman. Saya masih mencari-cari rencana atau buku yang menjelaskan bahagian ini, ‘art of reasoning’.

Nota :

Panduan terjemahan Al-Qur’an berpandukan dari laman UIA.

Read Full Post »

Respon kepada tulisan Sifu Ainon lewat analisis Surah Yusuf.

Maksud ayat 13,

Dan ketika Luqman menasihati anaknya, “Wahai anakku, janganlah engkau syirik kepada Allah. Sesungguhnya syirik satu kezaliman yang besar”.

Maksud ayat 16-18,

“Wahai anakku! Jika ada (amalan) seberat biji sawi sekalipun yang berada di dalam batu, di langit ataupun di bumi, nescaya Allah akan mendatangkannya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus pengetahuannya lagi Maha Bijaksana”.

“Wahai anakku! Dirikanlah solat dan suruhlah (manusia) melakukan kebaikan dan tegahlah mereka daripada melakukan kemungkaran serta bersabarlah dengan apa yang menimpa engkau. Sesungguhnya demikian itu termasuk perkara yang wajib diambil berat”.

“Janganlah engkau memalingkan muka daripada manusia dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong membangga diri”.

Analisis wasiat Luqman

1. Dalam mendidik anak, Luqman menggunakan kalimah Allah, tidak Tuhan (rabb).

2. Manakala sifat-sifat Allah yang disebutkan pula ialah Allah Maha Halus (al-Latiif) pengetahuannya lagi Maha Bijaksana (al-Khobiir). Juga “Allah tidak menyukai orang yang sombong membangga diri”.

(Terjemahan disesuaikan dari teks Maulana Abdullah Yusuf Ali terjemahan Muhammad Uthman El-Muhammady)

Read Full Post »

Luqman menasihatkan anaknya, “Wahai anakku! Jika ada (perkara) seberat biji sawi sekalipun yang berada di dalam batu, di langit ataupun di bumi, nescaya Allah akan mendatangkannya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus pengetahuannya lagi Maha Bijaksana“. (Q.S. Luqman: 16)

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat teliti mengerjakan amalan baik dan hati-hati pada setiap perbuatan yang sia-sia dan membawa maksiat/ mungkar. Kesan dari aqidah yang benar, kita akan berlumab-lumba mengerjakan perbuatan baik sekecil mana pun. Hatta sekecil menunjukkan senyuman kepada saudaranya atau memulakan langkah kiri ketika memasuki tandas.

Besar yang tidak besar

Sebahagian dari kita suka dengan perkara yang ‘besar-besar’ sahaja, dan melalaikan perkara kecil. Yang dipentingkan ialah soal pembentukan negara Islam, pemimpin yang rasuah atau perlaksanaan hukum had. Ketiga perkara ini benar disuruh dalam agama, namun tidak semua manusia mampu melaksanakannya. Apalah daya bagi seorang petani atau peniaga pasar malam mencegah rasuah pemimpin negeri? Namun yang mampu mereka lakukan (bahkan sebahagian besar mampu lakukan) ialah menjaga hak-hak jiran, menjaga lisan mereka dari perkataan yang sia-sia dan memimpin keluarga untuk patuh pada perintah dan larangan Allah.

Kita bertanggungjawab pada apa yang kita mampu lakukan sahaja pada hari akhirat kelak. Seorang manusia tidak akan menanggung dosa manusia yang lain.

Kecil yang tidak kecil

Para sarjana salaf tidak pernah memandang kecil sesuatu perkara selagi mana ia memberi pahala. Diceritakan, sarjana hadith Imam Abu Dawud mendengar seorang lelaki bersin. Ketika itu beliau berada di seberang sungai. Maka beliau lekas-lekas mengambil sampan dan mendayung ke seberang lalu bertanya, “Apa yang kamu ucapkan selepas bersi tadi?”. Lelaki itu menjawab, “Aku kata alhamdulillah“. Kemudia segera Imam Abu Dawud membalas, ‘yarhamkumullah‘, sebelum mendayung semula ke tempat asalnya.

Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka datanglah, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah nasihat, jika ia bersin lalu ia mengucapkan alhamdullilah maka doakanlah, jika ia sakit maka jenguklah, jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR Muslim)

Hadith berkaitan bersin juga direkodkan oleh Imam Abu Dawud di dalam kitab Sunannya.

Sebahagian dari kita hari ini, mencuaikan perkara ini. Baca : Adab ketika bersin

Sikap ahlus sunnah pada perintah Allah dan Rasul

Para sahabat dan golongan terawal tidak pernah mempersoalkan adakah suatu amalan itu wajib atau sunat, sebaliknya mereka berpeganga kepada ‘kami dengar dan kami taat‘ pada setiap perintah Allah dan Rasul.

Sikap ini yang perlu kita teladani.

Tidak ada perkara yang disebutkan dalam Kitab dan Sunnah, melainkan semuanya besar-besar dan penting-penting belaka. Hatta alif lam mim, itu pun tidak pernah ada sarjana Islam yang mengeluh untuk dimansuhkan kerana seolah-olah ia tidak memberi makna.

Sebahagian besar ajaran agama boleh difikirkan secara rasional akan sebab dan hikmahnya. Namun ada sebahagian lagi perintah Allah dan Rasul belum dapat kita fikirkan hikmahnya. Kaum neo-Muktazilah yang mengutamakan akal berbanding wahyu akan cuba menyesuaikan perintah itu dengan logik dan rasional mereka. Manakala ahlus sunnah mengambil pendirian patuh dan taat sahaja.

Sekecil nyamuk

Allah dalam kitabnya menyebut tidak ada ciptaannya yang sia-sia. Orang-orang Yahudi dan fasik cuba mempersoalkan rasional disebalik ayat yang menceritakan perihal nyamuk. Selain nyamuk, Allah juga menyebutkan beberapa haiwan kecil lain sebagai perumpamaan dan pengajaran, seperti lalat, lebah dan semut (kisah Nabi Sulaiman). Beberapa haiwan yang disebutkan dalam Al-Quran, baca di sini.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَـذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang yang beriman, mereka tahu bahawa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi, mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan itu banyak orang yang dibiarkanNya sesat, dan dengan itu banyak pula yang diberikanNya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu selain orang fasik.” (Q.S. Al-Baqarah:26)

Isu nyamuk dan lalat hari ini

Hari ini nyamuk dan lalat bukan isu kecil. Tidak sedikit bencana yang diakibatkan oleh nyamuk dan lalat. Taun dan denggi memakan korban sejumlah besar umat manusia. Baca artikel tentang keajaiban nyamuk.

Dan tidak sedikit juga dari manusia yang kaya-melana dalam industri nyamuk. Boleh sahaja kita kira nisbah iklan ‘ubat nyamuk’ berbanding iklan-iklan yang lain.

Sebagai pengajarannya, dalam menghayati perintah Allah dan Rasul kita ‘dengar dan taat’ sahaja. Inilah jalan yang selamat, thoifah mansurah, firqatun najiyah. Sekecil mana perbuatan baik, kita kerjakan apabila mampu. Dan sekecil mana perkara mungkar, kita tinggalkan.

Read Full Post »

Older Posts »